Waktu iseng gugling sepeda fongers ketemu dua berita di bawah ini:
Hemat Energi dengan Sepeda Antik
Harganya Sama dengan Motor China
INSTRUKSI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melakukan penghematan
energi, jauh hari sudah dilaksanakan sekelompok penggemar sepeda antik
di Kota Brebes. Aktivitas kelompok yang tergabung Paguyuban Sepeda
Antik Indonesia (Pasti) tak dipublikasikan, karena mereka tak mau
dianggap sensasional. Setiap anggota menerapkan pola hemat energi,
dalam konteks terbatas. Seperti ketika malam hari berkunjung ke rumah
teman atau saudara, sepeda menjadi alat angkut yang ekonomis.
‘’Teman-teman
anggota Pasti sudah membiasakan diri, ke mana pun pergi naik sepeda
antik. Namun untuk ke kantor belum, takut dianggap sensasi,’’ ujar Asih
Pamubudi SH, salah seorang penggemar sepeda antik.
Lelaki
bertubuh atletis itu mengatakan, ketika menjabat camat Brebes -sebelum
SBY mengumumkan instruksi hemat energi- dirinya sering ke kantor naik
sepeda merek Gazelle. Dari rumahnya Jl Samosir sampai ke kantor sejauh
tiga kilometer, ditempuh dengan mengayuh sepeda antiknya.
Asih
dan anggota Pasti sangat mendukung program hemat energi yang dilakukan
pemerintah. Sebab dengan naik sepeda, badan menjadi sehat. Selain itu
tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli bensin. Anggota paguyuban
juga mempunyai agenda rutin setiap Minggu pagi, yakni bersepeda bersama
ke Kota Tegal untuk berekreasi sekaligus olahraga.
Anggota
Pasti semula hanya beberapa orang, tetapi kemudian bertambah dan kini
menjadi 26 orang. Personelnya sebagian besar pejabat, mantan pejabat,
guru, pensiunan PNS dan TNI.
‘’Kami ingin menjalin hubungan
silaturahmi antarpenggemar sepeda antik. Prinsip banyak kawan banyak
rezeki, kami terapkan di sini,’’ papar Edy Raharto, pejabat eselon III
di Badan Pengawas Daerah (Bawasda).
Tentang sepeda antik,
banyak cerita yang disampaikan anggota Pasti. Yang jelas, sekarang
untuk mencari sepeda tua dalam keadaan serba-orisinil sangat sulit.
Jika ada di pasaran pun harganya sangat mencekik leher. Berapa harga
sepeda Gazelle seri 11? ‘’Saya tidak bisa cerita harga, karena ini
kesenangan. Kalau senang dengan barangnya, harga bisa dari Rp 1 juta
sampai puluhan juta,’’ kata Asih.
Tak Semua Orisinil
Cerita
Edy lain lagi, dia punya Gazelle tetapi tidak semua orisinil. Sadel
atau jok model masa kini. Suatu ketika dia mampir ke sebuah bengkel
sepeda dan bertemu orang sedang memperbaiki sepedanya. Kebetulan
sadelnya orisinil, sehingga langsung ditawar Rp 50.000. ‘’Eh dia
ternyata mau saya bayar Rp 50.000, meski sebelumnya dia merasa
keberatan,’’ paparnya. Sadel asli pada bagian atas tengah tertera merek
Gazelle.
Merek sepeda tua yang dipakai anggota Pasti antara
lain Batavus, Simplex, Humber, Raleigh, Fongres, Gazelle, dan BSA. Para
pemakai sepeda antik rata-rata tidak mengetahui tahun berapa pembuatan
sepeda itu. Mereka hanya mengira-kira tahun 1927 sampai 1945.
‘’Tetapi kemungkinan umurnya lebih tua, karena tahun pembuatan tidak tertera di bodi,’’ ujar mereka.
Perburuan
sepeda antik belakangan juga banyak dilakukan para belantik (penjual
jasa) sepeda. Ada di antara mereka sudah mengenal pemilik sepeda antik
dari Brebes sampai Semarang. Menurut Yanto -seorang belantik sepeda-
harga sepeda antik bisa mencapai Rp 6 juta-Rp 10 juta, tergantung pada
kemulusan barang dan keorisinilannya. ‘’Ya harganya memang sama dengan
motor produksi China,’’ ujarnya.
Untuk mengenali sepeda antik
sebenarnya sangat mudah. Biasanya pada bagian tertentu, khususnya bodi
tertera merek dan di bawah sadel tertera nomor seri. Merek Gazelle
misalnya, dikenali memiliki ciri pada pelek. Yakni di bagian tengah
berwarna hitam. Kemudian di spakboar terdapat kelinan untuk kabel lampu
belakang. Di ujung depan terdapat lambang binatang Kijang, dan di gir
genjotan ada lambang Kijang tiga buah. ‘’Pokoknya kalau kita mau beli
harus hati-hati, jangan percaya begitu saja pada belantik,’’ paparnya.
Meski
umur sepeda hampir rata-rata kepala lima (50 tahun), kondisi sepeda
anggota Pasti masih cukup baik. Ketika dinaiki tak kalah dengan sepeda
model masa kini. ‘’Nyaris tak ada suara apa pun ketika kita naiki,
genjotannya juga enteng,’’ ungkap Asih.
Meski sudah merupakan
barang tua, ada salah satu toko di Kota Tegal yang hingga kini masih
menyediakan ban sepeda Gazelle, tetapi harga satu ban bisa mencapai Rp
700.000.
Berita lagi :
Suara Merdeka juga
Nostalgia dengan Naik Sepeda Tua
Rely Gondok Asli Rp 3 Juta
SEKITAR
dekade 1960-an hingga 1970-an, penampilan seseorang bisa diukur dari
sepeda yang mereka naiki. Jika mereka naik sepeda merek Rely Gondok dan
bertopi garbus ala cowboy, langsung bisa ditebak bila dia berstatus
sosial tinggi atau orang kaya.
Kala itu yang biasa memakai
sepeda Rely Gondok, Northon, Gazele, Simplek, Fongres, atau Gimbar
muncul dari kalangan orang berduit. Mereka biasanya juragan bawang
merah, mandor tebu, sinder tebu, dan kalangan atas berpenghasilan besar.
Dengan
bunyi sepeda yang khas, cek…cek…cek, memang lain dengan sepeda biasa.
Kerangka sepeda juga memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan
sepeda model sekarang. Potongan lebih kukuh, baik sepeda laki-laki
maupun wanita. Pada jok tepat duduk menggunakan bahan kulit tebal dan
setang melengkung ke belakang. Mereka yang menggunakan sepeda itu untuk
zaman sekarang barangkali sama dengan kendaraan roda empat sekelas
Toyota Kijang atau Izusu Panther.
‘’Dahulu bila tak sekelas
majikan atau juragan, tak bakalan naik sepeda mahal lantaran sepeda
motor belum begitu banyak,’’ papar Mikrad (50), belantik sepeda asal
Desa Pamengger, Jatibarang, Brebes.
Sekarang masihkan
sepeda-sepeda tua itu? Nuridin yang biasa mangkal di pinggiran jalan
Kota Jatibarang menuturkan, jenis sepeda itu menjadi barang langka.
Mencarinya juga harus di pedagang sepeda bekas. Di Kota Brebes bisa
dijumpai di Jalan AR Hakim dan Jalan Letjen Soeprapto, lokasi mangkal
para belantik sepeda. Di sekitar Kota Bumiayu, di jalan menuju
Kecamatan Bantarkawung khususnya pada hari pasaran wage. ‘’Di Kota
Jatibarang, belantik sepeda kuno bertebaran di sepanjang jalan dan di
belakang pasar,’’ ujar Udin, warga Jatibarang.
Harga Bervariasi
Warno,
pedagang sepeda bekas di Jatibarang mengungkapkan, harga sepeda kuno
bervariasi mulai dari Rp 500.000 sampai tertinggi Rp 1,5 juta. Tapi
bila ada juga yang masih bagus dan semua onderdil orisinil bisa Rp 3
juta. Yang unik dari sepeda tua itu, pemilik umumnya membiarkan cat
sepeda dalam bentuk orisinil. Perangkat lampu, bos (baterai), dan sadel
(jok) tetap dibiarkan seperti kondisi awal.
‘’Meski warna cat diubah menjadi lebih mulus tak akan mendongkrak harga,’’ papar mereka.
Sukardi,
salah seorang perangkat desa, bercerita tentang sepeda kunonya. Tiga
puluh tahun silam, dia naik sepeda merek Gazele yang waktu itu menjadi
incaran orang berduit. Karena saking gagahnya bersepeda mahal waktu
itu, dia bisa memboncengkan gadis kembang desa.
Kendati kini
menjadi barang langka, onderdil sepeda merek kuno masih bertebaran.
Sayang, kualitas onderdil keluaran baru kurang baik. Selain kekuatan
beda jauh, barang baru krumnya cepat kusam. Untuk mengetahui sepeda tua
itu orisinil atau tidak, mereka melihatnya dari nomor seri, dan cap
atau lebel pada bagian depan kerangka. Cap itu tak bisa dipalsu, makin
kuno tahun pembuatannya makin jadi kejaran pemburu barang antik.
Salah
seorang yang gemar mengoleksi sepeda tua adalah Teguh, warga Perumnas
Kaligangsa Wetan, Brebes. Lelaki itu sebetulnya mampu membeli motor
atau mobil, tapi sepeda tua setia menemani dalam keseharian. Dia
menganggap bersepeda tua memiliki nilai tersendiri. Seakan ada
kesejukan batin dan bisa mengenang sang kakek yang juga penggemar
sepeda.

PAJANG
SEPEDA: Para belantik sepeda di pinggir jalan ibu kota Kecamatan
Jatibarang, Brebes sedang memajang sepeda tua. Peminat juga banyak
berdatangan dari berbagai daera.
Aku pasang jangkar ini karena aku suka dan punya pit onta

