Jul
03
Filed Under (VESPA) by bahtiar on 03-07-2005

SlankuterKlo besuk istriku aku poligami dengan banyak vespa, cemburukah ?

Tadi pagi menjelang siang, sekitar jam sebelasan sepulang nganterin *Pito* jaga Gorilla Langka di FKY dapet sms dari *Mas Kere Kemplu* bunyinya kek gini :

"Bc kompas hr ini hal 33, jangan yg online yaa … rasanya beda"

Aku penasaran, jane isine opo too ? Aku metu nang kios ngarep golek Kompas Cetak. Tuku regone rongewu petangatus. Bareng dibuka ternyata isine :

  1. Berskuter, Kami Bersaudara
  2. Sayang Anak dan Istri, Vespa Juga
  3. KILAS HOBI

Lumayan bisa tuk nambah pengetahuan bagi Semok Biruku. Waktu sercing neng Kompas mung nemu artikelle tok, kok ra ono gambare seng keren iku …. :( mungkin ada pembaca yang bisa menemukan di link mana Kompas menaruh gambar-gambar Vespa tersebut ….?


BERSKUTER, KAMI BERSAUDARA

Hobi dan Komunitas

Oleh: Frans Sartono

Jika
sempat berkeliling Jakarta pada akhir pekan, Anda mungkin akan
berpapasan dengan konvoi pengendara skuter. Mereka boleh jadi adalah
para anggota klub penggemar skuter yang sedang menuju tempat "mangkal"
masing-masing.

Tengoklah kawasan sekitar Monas. Di sana berkumpul
keluarga besar Vespa Monas Club. Lihat juga di bilangan Jalan Mahakam,
Jakarta Selatan, tempat anggota Jakarta Vespa Club berkumpul.

Daftar
tempat mangkal menjadi panjang karena di wilayah Jabotabek ada sekitar
80 klub penggemar skuter dengan jumlah anggota lebih dari 4.000 orang.
Sebagian dari klub itu menginduk pada Ikatan Vespa Indonesia (IVI).

Sekadar
menambahkan, tengok juga di depan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Di sana bergerombol kelompok Independent Scooter Taman Ismail Marzuki
(ISTIM). Di taman lain, kali ini di sekitar Taman Makam Pahlawan
Kalibata, berkumpul Brandal Scooter. Ada pula penggemar skuter yang
kebetulan bernaung pada perusahaan sama seperti Vespa Owners Group
(VOG) yang suka mangkal di depan kantor mereka di Palmerah Selatan.

Jangan
lupa pula mampir ke kawasan di depan Masjid Raya, Tangerang, Banten. Di
sanalah anggota Budavest berdiri. Budavest adalah singkatan dari Budak
Vespa Tangerang yang kini beranggotakan 175 orang. Asal tahu saja,
budak di sini diartikan sebagai anak-anak.

Anggota klub sangat
variatif, mulai dari dokter hewan, marinir, mahasiswa, guru, karyawan
swasta, pegawai negeri, ustadz, sampai polisi, bahkan ada pula yang
masih menunggu pekerjaan mapan. Dalam kumpul anggota, mereka
membicarakan segala hal, tetapi kebanyakan berkisar soal Vespa. Dari
ajang itulah mereka bertukar info soal suku cadang yang dibutuhkan.

”Ada
juga anggota yang dapat pekerjaan dari teman sesama anggota,” papar
Herman (30), anggota ISTIM yang membuka bengkel di bilangan Jalan
Otista III, Jakarta Timur.

Tak hanya nongkrong dan touring, klub
juga melakukan bakti sosial. VOG yang beranggota 120 orang itu,
misalnya, akhir Juli mendatang akan mengadakan khitanan massal di
Subang, Jawa Barat, sekalian tur.

Klub-klub itu terbentuk dari
rasa senasib sepenanggungan sebagai pengguna Vespa. JVC, misalnya,
terbentuk dari pengguna yang sering menserviskan Vespa di sebuah
bengkel di bilangan Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Mereka kemudian
menggagas untuk membuat wadah kegiatan bagi pengendara Vespa. Pada Juni
1985 terbentuklah kemudian Jakarta Vespa Club (JVC).

”Tur pertama
kami ke Cibodas diikuti 200 peserta. Setelah pulang tur, beberapa
peserta mendirikan klub lain. Sejak itu klub penggemar Vespa
bertambah,” kata Roni Rasjidi (48), salah seorang tokoh JVC.

Mereka
kebanyakan mengaku jatuh cinta dengan skuter bermerek Vespa karena
desain bodi yang dianggap unik, mesin yang praktis, serta ban serep
yang mudah dipasang jika ban kempes.

”Buat cewek, Vespa itu asyik. Bodinya seksi” kata Yeti Widianti (27), anggota Brandal Scooter yang mempunyai Vespa tipe Gran Sport (GS) keluaran tahun 1965.

Penggemar
Vespa yang tergabung dalam klub-klub itu terkategorikan dalam
fokus-fokus berbeda. JVC, misalnya, cenderung pada pemeliharaan Vespa
klasik. Klub Sitoracing memfokuskan pada sport termasuk balap I.

Bersaudara

Apa
pun fokus kegiatan klub tersebut, mereka punya rasa persaudaraan sesama
penggemar. Pada akhir pekan mereka kadang saling berkunjung ke tempat
mangkal klub. Ada peraturan tak tertulis yang mengondisikan sesama
pencinta untuk saling melambaikan tangan jika berpapasan di jalan meski
mereka tidak saling mengenal.

”Kami enggak takut mogok di jalan.
Kalau ketemu sesama anggota pasti akan ditolong meski kami enggak
saling kenal. Kalau perlu ditarik ke bengkel terdekat,” kata Yudo (27),
anggota ISTIM yang menggunakan Vespa tipe Super keluaran 1974 warisan
sang eyang.

Yudo menyebut solidaritas antarpencinta skuter itu
sebagai scooter brotherhood, persaudaraan antarpengguna. Persaudaraan
itu berlaku bagi penggemar skuter di mana pun.

Dengar pengalaman
Eko Sulistyanto, Sekretaris Budavest, ketika pada tahun 2000 melakukan
tur Jakarta-Malang menuju Bromo. Menjelang malam, Eko dan lima anggota
rombongan tiba di Solo, Jawa Tengah.

”Kami disamperin sesama
anggota klub. Padahal, kami belum kenal dan belum pernah kontak. Kami
diminta menginap di rumah anggota Bengawan Solo Club,” papar Eko
tentang sambutan penggemar Vespa di Solo.

”Kalau kami nongkrong,
itu sudah seperti saudara. Kami enggak pandang suku atau agama, semua
boleh bergabung. Kami bersaudara tanpa gontok-gontokan,” kata Roni.

”Kami bersemboyan, berskuter kami bersaudara,” kata Yudo seperti mewakili semangat berkerabat penggemar skuter.


SAYANG ISTRI, SAYANG ANAK, SAYANG VESPA JUGA ….

Kisah Sang Kolektor

Selain
istri dan anak-anak, saya paling sayang sama skuter,” kata Tamrin (57),
bapak lima anak yang mengoleksi lebih dari 20 skuter merek Vespa.

Vespa
itu ditempatkan di garasi khusus di rumahnya di bilangan Ciracas,
Jakarta Timur. Setiap skuter diselimuti kain berwarna cerah.
Tersebutlah antara lain Vespa GS (Gran Sport) produksi tahun 1962.
Skuter ini terkesan kukuh sentosa karena bodi dicetak tunggal tanpa
sambungan (one-piece metal pressing.)

Ada juga Vespa
Douglas keluaran tahun 1958. Ini adalah skuter yang dibuat oleh
perusahaan Douglas, Inggris, dengan lisensi dari Vespa. Tertua dalam
koleksi Tamrin adalah Vespa bikinan tahun 1951. Setang Vespa ini tak
beda dengan setang sepeda. Semuanya dalam keadaan kinclong seperti baru
keluar dari pabrik.

Vespa itu datang kepada Tamrin dalam keadaan
tidak mulus. Dia pernah mendapat Vespa keluaran tahun 1965 dalam
kondisi bulukan. Ia trenyuh. Lalu dirawatlah Vespa yang bodi dan
mesinnya masih asli. Berbulan-bulan ia memburu aksesori orisinal sesuai
dengan tahun kelahiran Vespa tersebut. ”Saya jarang main imitasi.
Seluruhnya saya usahakan orisinal,” katanya.

Tamrin memburu Vespa
dari berbagai kota di Jawa, seperti Bandung, Purwokerto, Yogyakarta,
Semarang, dan Solo. Perburuan sampai juga ke Singkawang, Kalimantan
Timur, yang tak lain adalah kampung halaman. Di kota itulah Tamrin
jatuh cinta dengan Vespa.

Di Singkawang, pada era 1960-an, kenang
Tamrin, pemilik Vespa masih bisa dihitung dengan jari. Pemiliknya
kebanyakan pejabat setingkat ketua pengadilan negeri.

”Waktu
kecil, saya jarang lihat motor. Waktu pertama kali lihat Vespa saya
terkesan sekali dengan bentuknya yang rasanya aneh. Lekuk-lekuknya,
bodinya yang bulat itu ada seninya,” kenang Tamrin, kelahiran
Singkawang tahun 1948.

Pada tahun 1967 ketika dia sudah bekerja
dan mampu membeli kendaraan, dibelilah Vespa keluaran tahun 1965
berwarna biru malam. ”Itu pertama kalinya saya naik motor.”

Tahun
1978 ia hijrah ke Jakarta dan skuter itu ia jual. Belakangan pada tahun
1998—ketika dia sudah jadi pencinta Vespa—diburulah kembali ”kekasih” lamanya itu. ”Saya cari lagi dan ketemu. Vespa itu sudah jatuh ke tangan ketiga.”

Hobi
merawat Vespa menurut Tamrin, memerlukan usaha yang sabar, tekun, dan
ulet. Skuter bulukan dengan mesin mati, lalu berubah menjadi Vespa
mulus, jelas bukan upaya sulap.

Banyak orang yang kemudian
melirik hasil ketekunan Tamrin. Mereka membeli, termasuk Mandra, pemain
sinetron itu. Harganya memang bisa lebih mahal daripada harga motor
keluaran terbaru. Namun, bagi Tamrin, ini bukan urusan angka nominal.
”Ini soal kepuasan batin, susah diungkapkan dan tak bisa diukur dengan
uang. Namanya juga kesenangan,” katanya. (XAR)


KILAS HOBI

"Sembra Una Vespa"

Syahdan,
Rinaldo Piaggio mendirikan pabrik Piaggio pada tahun 1884 di Sestri
Ponente, Genoa, Italia. Awalnya Piaggio memproduksi perlengkapan kapal,
kemudian kereta. Tahun 1915 Piaggio mulai memproduksi pesawat terbang.
Sepeninggal Rinaldo pada tahun 1938, Enrico Piaggio, anaknya,
melanjutkan usaha.

Saat Perang Dunia II, Italia mengalami krisis
transportasi publik. Bahan bakar terbatas dan harga mobil mahal.
Piaggio lalu merancang moda angkutan yang murah, irit bahan bakar,
praktis, lincah, serta dapat digunakan lelaki dan perempuan.

Tahun
1946 mereka memperkenalkan skuter. Perancang skuter memperkenalkan
konsep desain kepada Enrico Piaggio. Dia berkomentar spontan. ”Sembra
una vespa —kelihatannya kayak tawon!” Vespa dalam bahasa Italia berarti
tawon. Sejak itu skuter bikinan Piaggio itu disebut Vespa. (XAR)

Hikayat Skuter

Scooter
berasal dari scoot yang artinya berlari kencang. Etimologi kata scoot
berasal dari bahasa Skandinavia skjOta yang artinya menembak. Scooter,
oleh kamus Webster dijelaskan sebagai kendaraan roda untuk anak-anak
yang di sini dikenal sebagai otopet.

Terdapat jenis scooter
dorong (push scooter) alias otopet dan motor scooter. Skuter adalah
jenis kendaraan bermotor roda dua di mana pengendara duduk tanpa harus
mengangkangi mesin.

Vespa diproduksi pada tahun 1946. Pada tahun
1947 perusahaan Inocentti, Italia, memproduksi skuter Lambretta. Skuter
Lambretta sempat populer di Indonesia pada pertengahan era 1960-an.
Lambretta tak berumur lama karena Inocentti bangkrut tahun 1970. Pada
era 1980-an, Yamaha dan Honda mulai memproduksi jenis skuter. (XAR)


Waktu sercing di Kompas juga sempet nemu brita ini

Slank, Konvoi Scooter untuk Perdamaian

Gambarnya aku pake untuk hiasan judul di atas

Gak
ada kata ’damai’ sebelum kita melakukan ’gerakan’ menuju… jalan
damai," itu bunyi pesan perdamaian yang digelindingkan oleh grup Slank
dalam rangka tur Road to Peace mereka bersama grup Naif yang digelar
oleh A Mild Production pada Januari hingga Maret lalu di 24 kota
Indonesia. Kalimat tersebut dipajang pula oleh Slank pada sampul album
live baru mereka yang juga berjudul Road to Peace.

Untuk kesekian
kalinya grup dalam negeri berakar rock n’ roll itu mengumandangkan
pesan perdamaian. Dalam rangka peluncuran album itu, serangkaian acara
berbau properdamaian diadakan oleh Slank dan A Mild Production pada
Kamis (13/5), sejak pukul 11.00 hingga pukul 14.00 WIB, di Jakarta.
Sebelum jumpa pers dan konser kecil di Museum Nasional (Jakpus),
digelar dulu konvoi scooter serta penandatanganan plakat oleh sejumlah
tokoh dan pelepasan sejumlah burung merpati putih tanda perdamaian.

"Untuk
peluncuran album, kami selalu ingin sesuatu yang berbeda, enggak cuma
jumpa pers di kafe. Makanya, kami bersama A Mild Production (yang
bekerja sama dengan Slank merilis album Road to Peace) mengonsep acara
seperti ini," jelas Kaka, vokalis Slank, kepada para wartawan.

"Sesuai
judul Road to Peace, kami ingin ada sesuatu yang berhubungan dengan
jalanan dan perjalanan. Makanya, kami bikin konvoi kendaraan bermotor,"
lanjut Kaka. Mereka memilih scooter karena unik dan klasik serta
bercitra kelas menengah-bawah, dari mana kebanyakan penggemar Slank
alias Slanker berasal.

Konvoi scooter dari Senayan (Jakpus)
ke Museum Nasional, yang dimulai pada pukul 11.00 WIB dan memakan waktu
kira-kira setengah jam, diikuti oleh 36 sepeda motor berjulukan Si
Semok itu. Empat dari lima personel Slank, yaitu Kaka, Abdee (gitar),
Ridho (gitar), dan Ivanka (bas), ikut. Satu lagi, Bimbim (drum), tidak
bisa hadir. "Lagi demam, kecapean," terang manajer Slank, Iffet
Sidharta, yang akrab dipanggil Bunda, kepada KCM.

Abdee, Ridho,
dan Ivanka mengendarai sendiri sepeda-sepeda motor pinjaman dari
peserta-peserta lain, sedangkan Kaka memilih membonceng peserta yang
lain lagi. Mereka diiringi oleh para anggota tujuh klub pecinta scooter
se-Jakarta dan sekitarnya, yaitu Budavest (Budak Vespa Tangerang),
Vespa Indonesia Online, Scooter Indonesia, Jakarta Vespa Club, Bekasi
Independent Scooter, Scooter Owner Group, dan Family Independent
Scooter.

Sampai di Museum Nasional, Slank langsung menjalani
acara penandatanganan plakat oleh Mar’ie Muhammad (Ketua Palang Merah
Indonesia), Saparinah Sadli (anggota Komnas Perempuan), Putu Wijaya
(budayawan yang tak jarang membawa pesan perdamaian lewat
karya-karyanya), dan pianis Henrietta Noveria Embut, keponakan Mochtar
Embut, pencipta lagu Mars Pemilu yang disajikan oleh Slank dalam album
Road to Peace dengan aransemen baru. Bersama Slank mereka lalu melepas
burung-burung merpati putih.

Kaka menekankan bahwa Slank tak akan
bosan-bosan menularkan virus perdamaian. "Kami punya banyak penggemar.
Mereka, generasi muda, harus ditulari yang baik-baik," tutur Kaka
kepada pers. "Indonesia masih membutuhkan gerakan-gerakan untuk
mewujudkan perdamaian," sambungnya.

Kegiatan properdamaian Slank
kali ini, kata Ridho, merupakan kelanjutan dari aktivitas-aktivitas
mereka semacam sebelumnya. Selain itu, "Ada kaitannya dengan Pemilu
2004, kami ingin presiden kita yang terpilih nanti bisa mendamaikan
Indonesia seperti di Ambon, Aceh, dan lain-lain," tambahnya. (Ati)

Klo besuk istriku aku poligami dengan banyak vespa, cemburukah ?