Tanggal: 13/07/2005 12:57 WIB

Kritis,
berani dan jujur. Begitulah sosok seorang pemuda di awal tahun 1960-an,
Soe Hok Gie. Dalam pandangannya, Presiden Soekarno adalah lanjutan dari
pada raja-raja Jawa. Beristri banyak dan mendirikan keraton-keraton dan
lain-lain. Tajam!
Diangkat dari buku ‘Soe Hok Gie: catatan seorang demonstran’, Mira
Lesmana dan Riri Riza menuangkan dalam versi layar lebar dengan
interpretasi sendiri. Tak menyeluruh mengikuti naskah bukunya, mereka
mengambil garis besar buah pikir dan kehidupan Gie yang cukup kompleks
dan diproses untuk sebuah tontonan komersil.
Dan itu tak mudah. Setting cerita di tahun 1960-an cukup sulit dicari.
Akhirnya, Semarang menjadi lokasi syuting utama yang dianggap sangat
dekat dengan penggambaran Jakarta kala itu. Mobil-mobil yang
berseliweran di dalam film tersebut, juga dengan penuh perjuangan untuk
mendapatkannya. Selain pinjam, ada juga yang direnovasi kanan-kiri agar
mendekati mobil a la tahun 1960-an.
Hasilnya, cukup memuaskan. Layak menjadi tontonan bagi siapa pun yang
berkesan dengan pemikiran orisinil seorang Gie dan mencari tontonan
alternatif di tengah maraknya film bergenre remaja dan horor.
Mengintip Sosok Gie Dalam Film
Sejak usia 15 tahun, Gie yang duduk di bangku SMP sudah mulai
menggoreskan kesehariannya dalam sebuah buku. Inilah awal pembuka film
yang harus menjalani proses produksi selama tiga tahun. Suara Nicholas
Saputra yang memerankan tokoh Gie, memperkenalkan dirinya.
Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah
berkecamuk di Pasifik. Kira-kira pada umur lima tahun saya masuk
sekolah Sin Hwa dan seterusnya.
Gambar dimulai dengan keresahan masyarakat akan revolusi di tahun 1957.
Tembok-tembok menjadi sasaran inspirasi mereka atas keinginan akan
perubahan yang cepat menuju perbaikan hidup yang layak. Sosok Gie,
yanga bercelana pendek dan berkaos oblong, menjadi saksi mata akan
ketidakpuasan sebagian bangsa Indonesia kala itu.
Walau terbilang masih cukup muda, Gie sudah memiliki
pemikiran-pemikiran yang tak terbendung. Jika ada yang tak berkenan dan
salah menurut pandangannya, ia tak segan-segan membantah. Ia berani
mengoreksi gurunya yang mengatakan Chairil Anwar adalah pengarang prosa
Pulanglah dia si anak hilang.
Gie yakin pengarangnya adalah Andre Gide, seorang sastrawan yang
bukunya sudah dilahapnya dan Chairil hanyalah penerjemah. Sang guru
tadi tetap ngotot akan pendapatnya. Tak ada yang mengalah, Gie dipaksa
mengulang kelas. Dan itu kembali diprotesnya.
Sejak SMP, Gie memang sudah haus dengan dunia sastra. Buku karya
Spengles, Amir Hamzah, Chairil Anwar dan Shakepeare sudah dicernanya
dalam otak. Namun itu juga dikritisinya habis-habisan. Misalnya saja
kisah legendaris ‘Romeo and Juliet’. Romantisme yang tertuang di
dalamnya dianggap tak masuk akal dan menjemukan.
Dengan alur cerita maju, Riri Riza berhasil menuangkan dengan baik
peralihan Gie dari ia masih bercelana pendek hingga bercelana panjang.
Keterangan waktu yang penting di film ini menjadi pembuka babak penting
kehidupan Gie. Dari SMP menginjak SMA, Gie diperankan oleh Jonathan
Mulia. Saat ia menginjak bangku kuliah di Universitas Indonesia pada
tahun 1962, sosok Gie dewasa beralih ke Nicholas Saputra. Tampak
‘rapi’, wajah Gie kecil dan Gie dewasa cukup memiliki kemiripan.
Tak semua tokoh yang ada dalam film Gie ini pernah ada. Misalnya Shinta
dan Ira. Dua wanita yang digambarkan dekat dengan Gie itu hanyalah nama
yang diciptakan. Pujaan hati Gie sesungguhnya bernama Maria. Dalam
kenyataannya, Gie tak bisa memiliki Maria karena keluarganya tidak
setuju.
Diam menjadi kekuatan karakter sosok Gie. Pada nyatanya, menurut Riri,
Gie memang sangat pendiam. Menurut pengakuan Riri yang sempat
mewawancara Arif Budiman, kakak beradik itu pernah tak bicara selama 10
tahun hanya karena mempertahankan pandangan masing-masing. Dan
syukurnya, Nicholas akhirnya berhasil melepas karakter ‘jaim’ Rangga di
Ada Apa dengan Cinta
dan bermain baik mulai di pertengahan film. Sosok Gie yang diam,
dewasa, memiliki idealisme tinggi, tampak dikuasai olehnya. Bahkan dari
cara menirukan jalan Gie yang sedikit ‘kemayu’.
Menjadi bumbu penyegar, tak lupa film ini diselipkan kisah romansa sang
demonstran di tengah-tengah kesibukannya membagi pemikiran-pemikiran di
kampusnya. Gie yang kaku, harus menahan rasa sukanya pada Ira, teman
seperjuangannya di kampus. Kendati begitu, ciuman pertamanya bersarang
di bibir Sinta, seorang wanita yang pada akhirnya digambarkan menyerah
pada kekayaan material. Dan itu tak dimiliki Gie.
Namun hidup terus berjalan untuknya. Ia makin kritis kepada pemerintah
yang mulai bertindak sewenang-wenang menaikkan harga. Hatinya miris
melihat rakyat yang mengantri demi mendapatkan kebutuhan pokok. Dan
buah pikirnya menjadi sajian koran-koran terkemuka sekaligus menampar
pemerintah. Akibat perbuatannya itu, ia mulai dicari-cari ’seseorang’
untuk ‘diamankan’.
Hati Gie semakin terpaku melihat teman seperjuangannya mulai melupakan
keidealisannya. Mereka menduduki bangku parlemen dan mulai mengecap
enaknya berbahagia di atas penderitaan rakyat kecil. Gie pun mulai
menarik diri dari keterasingannya. Di puncak Semeru, 16 Desember 1969,
sang demonstran merasakan sesaknya menghirup gas beracun. Sehari
menjelang usianya ke 27 tahun, Soe Hok Gie
yang enggan berganti nama menghembuskan nafas terakhir disaksikan sahabat karibnya, Herman Lantang.
Catatan Harian Soe Hok Gie: Senin, 22 Januari 1962
‘Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial
adalah umur tua. Rasanya memang begitu, bahagialah mereka yang mati
muda.’
Saksikan Gie mulai 14 Juli 2005.